Dialektika Epistemologis dengan Prof. Ahimsa-Putra: "Membangun Batas Etis"
Untuk memperdalam analisis, saya akhirnya berdialog dengan Prof. HS. Ahimsa-Putra dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, seorang akademisi yang dikenal luas dalam kajian budaya, epistemologi, dan antropologi intepretatif. Percakapan kami mengerucut pada posisi ilmu pengetahuan, kebenaran, dan maraknya wacana "kebenaran relatif" di masyarakat modern.
Disinilah saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis: "Prof, bagaimana dengan "tren kebenaran relatif" yang akhir-akhir ini sering dipakai di masyarakat? Kenapa praktiknya lebih sering menjadi alat retorika untuk menolak kritik, melegitimasi tindakan pribadi, bahkan alibi hanya untuk menghindar dari tanggung jawab dan strategi membingungkan lawan bicara?"
Prof. Ahimsa-Putra kemudian menegaskan dengan tegas yang menurut saya sangat penting, bahwa: “Ilmu adalah cahaya penuntun manusia, bukan alat untuk mengendarai manusia dan memperdaya manusia”. Beliau menambahkan kebijaksanaan dalam keilmuan lagi, bahwa: "Ilmu pengetahuan adalah cahaya yang menerangi jalan hidup, kekuatan yang tak ternilai, dan senjata terkuat untuk mengubah dunia. Sementara kebenaran adalah sesuatu yang abadi, menyakitkan saat diucapkan, akan tetapi selalu mencari jalannya sendiri". Diskusi ini menyoroti bahaya relativisme radikal, yang dikritik karena tiga alasan utama, yaitu: “paralisis normatif, inkoherensi epistemik, dan resiko politis".
Paralisis normatif adalah jika semua dianggap relatif lalu hilanglah ukuran baik buruk dan benar salah, lalu "tidak ada lagi" itu pijakan moralnya. Kalau inkoherensi epistemik adalah jika semua klaim dianggap setara, maka "klaim kebenaran relatif itu sendiri benar" pun tidak punya dasar. Kalau resiko politis adalah relativisme "dapat dieksploitasi" sebagai alat pembenaran tindakan atau manipulasi publik.
Prof. Ahimsa-Putra "membedakan dengan tegas" antara relativitas sebagai alat analisis (mengakui kebenaran terkait konteks) dengan relativisme radikal (menganggap semua klaim kebenaran nilainya sama). Akademisi modern menolak relativisme total karena "ia menghambat" evaluasi kritis, menghapus standar pembuktian, dan membuka pintu bagi "penyalahgunaan ideologi". Saya paham maksud mas, bahwa pertanyaan ini berhubungan dengan "aliran skeptisime dan aliran sophist", berkembang dalam antropologi modern melalui tokoh-tokoh seperti Franz Boas dan Bronislaw Malinowski yang intinya menolak kebenaran berdasarkan standar universal tunggal.
Tapi kembali saya tegaskan, bahwa “Ilmu adalah cahaya penuntun manusia, bukan alat untuk mengendarai manusia apalagi memperdaya manusia”. Dan akademisi modern termasuk antropolog, filsuf, dan ilmuwan sosial “menolak relativisme total” karena: dianggap menghambat evaluasi antar budaya dan antar disiplin ilmu, lalu menghapus “standar pembuktian empiris”, dan terakhir “membuka ruang penyalahgunaan” ideologi yang cenderung politis, inkoherensi epistemik, serta paralisis normatif atas nama “kebenaran versi dirinya sendiri”. Begitulah semua harus ada pertanggung jawaban ilmiahnya.
Lalu apakah ada garis kesimpulan? Ada. Garis kesimpulannya adalah kekuatan narasi tanpa "nilai intrinsik" hanya akan menghasilkan keuntungan jangka pendek. Dan, kehancuran reputasi jangka panjang. Adanya kajian kebenaran relatif bukan alasan untuk meninggalkan kebenaran obyektif, akan tetapi kesempatan untuk membuktikan bahwa integritas adalah competitive advantage paling tinggi. Justru di era post-truth atau era kebenaran menjadi relatif: "Siapapun perusahaan yang memegang produk ber-intrinsic value tinggi, kebenaran obyektif dan integritas sebagai pondasi, akan menjadi yang paling berkelanjutan".
Paling menyebalkannya kebenaran relatif adalah ini: "baik buruknya nama seseorang itu tergantung siapa yang mendongeng (history Vs. his-story)". Itulah pekerjaan pemanipulasi substansi sejarah, tidak pernah berani dengan uji presisi, uji validitas, uji reliabilitas. Tidak punya nyali adu data, menggunakan tameng orang lain, bersembunyi dengan menggunakan orang lain, dan senang membentuk kebenaran relatif dengan gosip dan persepsi-persepsi kesesatan nalar (logical fallacy) ala pikirannya sendiri. Namun daripada itu, yang terpenting adalah "tetaplah menjadi baik", walaupun kita terlihat buruk di cerita-cerita dan dongeng-dongeng absurb penipu seperti orang tsb. Waktu akan membuktikan siapa yang paling bertahan dalam jangka waktu menengah dan jangka panjang.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar
Posting Komentar