Postingan

Data Blindness di Era Post-Truth (Kebenaran Relatif)

Gambar
Kalau kita bicara data, ada banyak hal yang harus digaris bawahi. Bagi saya data hanya preambule saja. Ini hanya input awal. Yang berbahaya saat mengolah itu menjadi output . Nah ini, alat-alat canggih/ jahat kadang menghilangkan etika dan moralitas. Orang yang selalu bicara moralitas tidak menjamin dan menjadikannya bermoral. Poinnya adalah kebohongan bisa menutupi kebenaran, tapi tidak menghilangkannya. Semua hanya masalah waktu, hingga kebenaran terungkap. Yakinlah, seberapapun cepat kebohongan itu berlari, namun kebenaran akan mengejarnya juga.  Di era post-truth (kebenaran relatif) yang serba aneh ini, berkompetisi "tidak lagi" semata-mata ditentukan oleh "kualitas intrinsic value sesungguhnya", melainkan lebih oleh kemampuan cangkeman dan narasi untuk: (1) menciptakan "narasi yang terasa benar" bagi target segmen ttt; (2) memanfaatkan "pergeseran fokus" dari value proposition rasional menuju "emotional proposition" yang memba...

Rupiah Terbakar, Penipuan Menghilangkan Mantra Kepercayaan Publik

Gambar
  Perhatikan ya. Mungkin kamu dulu percaya seseorang hingga orang itu sendiri yang membuktikan bahwa dirinya tidak bisa dipercaya. Kena tipu dengan orang yang kamu percaya bahkan membawa-bawa moral nilai, itu another level of kecewa yang luar biasa. Tapi tidak apa-apa karena may yazrok yahsud , siapa yang menanam cepat lambat pasti akan memanen. Jelas pasti akan nyungsep juga. Akhirnya pelajaran yang saya percaya adalah kesuksesan tidak hanya tentang membangun usaha, tapi juga membangun karakter dan integritas. Juga hati-hati dengan cangkem lunyu bahkan cangkem sengkuni. Apa itu? Orang yang tidak bisa dipercaya omongannya karena terlalu sering berbohong dan orang sudah mengetahui kebohongannya.  Ini berlaku begitupun dalam kepemimpinan, usaha, dan membangun negara. Maksudnya bagaimana? Semua akan bertahan lama jika dipimpin oleh orang yang jujur dan amanah. Parameternya ini. Apa itu? Tegaslah katakan iya ya memang iya, tidak ya memang tidak. Karena segala sesuatu "yang lebih...

Dialektika Epistemologis dengan Prof. Ahimsa-Putra: "Membangun Batas Etis"

Gambar
  Untuk memperdalam analisis, saya akhirnya berdialog dengan Prof. HS. Ahimsa-Putra dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, seorang akademisi yang dikenal luas dalam kajian budaya, epistemologi, dan antropologi intepretatif. Percakapan kami mengerucut pada posisi ilmu pengetahuan, kebenaran, dan maraknya wacana "kebenaran relatif" di masyarakat modern.  Disinilah saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis: "Prof, bagaimana dengan "tren kebenaran relatif" yang akhir-akhir ini sering dipakai di masyarakat? Kenapa praktiknya lebih sering menjadi alat retorika untuk menolak kritik, melegitimasi tindakan pribadi, bahkan alibi hanya untuk menghindar dari tanggung jawab dan strategi membingungkan lawan bicara?"   Prof. Ahimsa-Putra kemudian menegaskan dengan tegas yang menurut saya sangat penting, bahwa: “Ilmu adalah cahaya penuntun manusia, bukan alat untuk mengendarai manusia dan memperdaya manusia”. Beliau menambahkan kebijaksanaan dalam keilmuan lagi, bahwa: "I...

Waspada Penipuan

Gambar
Pahami ucapan saya ini "character is more important than brand" atau "character over brand" , bahwa lebih perdulilah dengan karaktermu (intrinsic value)  daripada reputasimu. Karena karaktermu adalah "siapa kamu sebenarnya (tidak ada topeng)" sedangkan reputasi hanya apa yang "orang lain pikirkan tentangmu".

Tradisi Para Pakar?

Gambar
  Sebuah tulisan dikala hujan sore santai sambil menikmati jus jambu. Ada ungkapan menarik dari seorang Cynthia Ozick (1928) bahwa dalam mengatakan apa yang sudah jelas, jangan pernah memilih licik. Ilustrasinya ketika kamu ingin menolong seseorang, pastikan dahulu ia itu anjing atau ular. Ular tetaplah ular walau sudah beberapa kali berganti kulit. Memang praktik di lapangannya bagaimana? Ini sebetulnya sudah  mental illness yang menjebak dirinya sendiri sih ya, akhirnya ambisi dijadikan pembenaran, hidup selalu berintrik, gila akan pengakuan, peluang selalu dipanen dengan licik, sikap hanya tipuan just   branding (not intrinsic value) , otaknya berpikiran picik, perilaku penuh rekayasa, bilangnya nir keuangan tapi praktiknya nir etiket. Saya fikir sudah cukup, kembali ke judul. Bagaimana itu tradisi para pakar? Lebih tepatnya "tradisi para ahli".  Kemaren kami menggelar FGD/ focus group discussion dengan berbagai kelompok akademisi dan industriawan berb...

Ekonomi Penentu Sejarah

Gambar
Dalam puncak moril, malah puncak ironi. Iya enough is enough . Di negeri tropis bernama Republik Indonesia ini, kekuasaan mirip kredit KPR: pahit di cicilan dan basa-basi manis di awal. Para pemimpin datang membawa janji, namun pergi meninggalkan defisit. Dan pada akhirnya, sejarah hanya mencatat satu hal "apakah kamu gagal bayar atau tidak?". Semua penguasa jatuh karena satu alasan. Apa itu? Ekonomi. Soekarno tumbang bukan karena kurang kharismatik, tapi karena rakyat tak sanggup lagi membeli kebutuhan pokok. Soeharto, sang "smiling general", bukan dilengserkan karena kehilangan senyum, tapi karena harga beras dan nilai tukar tak lagi bisa ditoleransi. Reformasi 1998 lahir bukan dari idealisme elite kampus semata, tapi dari kurs rupiah yang tembus Rp17.000, PHK massal, dan rakyat lapar. Sejarah valid (bukan his-STORY) tidak pernah butuh retorika dan relatif/ manipulasi. Sejarah hanya percaya bukti empirisme angka, bukan pemaknaan. Manusia biasa pun tunduk pada huk...

Pembohong Jangan Diberi Ruang Publik

Gambar
Awalan dari saya. Jika ada yang kau tutup-tutupi, lalu semua orang mengetahuinya sendiri, percayalah kamu tak ada integritas sama sekali. Yang diperbesar itu hati bukan kepala, yang diperkuat itu tekad bukan alasan, yang diturunkan itu ego bukan harga diri, yang diperbaiki itu cara bersikap bukan cara berbohong. Pembohong itu, sampai kapanpun tetap pembohong. Orang tipe kayak gini itu hanya mencari-cari alasan, ngutak atik kata narasi dg kebenaran relatif, dan terus menerus mengulur waktu untuk menutupi kebobrokannya.  "Jubah kebenaran relatif". Miris. Ditengah zaman informasi modern hari ini, menggunakan kata2 luhur untuk memperangkap orang dan meresikokan orang lain untuk menjalankan keinginannya. Bahkan urusan problem duit dia sendiri, sudah mulai menggunakan orang lain. Katanya barter job, tapi job-nya gak ada yg beres.  Keterbukaan zaman informasi, kebohongan malah semakin mudah mendapatkan ruang publik. Bukan sekedar kebohongan biasa tapi manipulasi kebohongan yg diseli...