Rupiah Terbakar, Penipuan Menghilangkan Mantra Kepercayaan Publik
Perhatikan ya. Mungkin kamu dulu percaya seseorang hingga orang itu sendiri yang membuktikan bahwa dirinya tidak bisa dipercaya. Kena tipu dengan orang yang kamu percaya bahkan membawa-bawa moral nilai, itu another level of kecewa yang luar biasa. Tapi tidak apa-apa karena may yazrok yahsud, siapa yang menanam cepat lambat pasti akan memanen. Jelas pasti akan nyungsep juga. Akhirnya pelajaran yang saya percaya adalah kesuksesan tidak hanya tentang membangun usaha, tapi juga membangun karakter dan integritas. Juga hati-hati dengan cangkem lunyu bahkan cangkem sengkuni. Apa itu? Orang yang tidak bisa dipercaya omongannya karena terlalu sering berbohong dan orang sudah mengetahui kebohongannya.
Ini berlaku begitupun dalam kepemimpinan, usaha, dan membangun negara. Maksudnya bagaimana? Semua akan bertahan lama jika dipimpin oleh orang yang jujur dan amanah. Parameternya ini. Apa itu? Tegaslah katakan iya ya memang iya, tidak ya memang tidak. Karena segala sesuatu "yang lebih dari itu" biasanya cuma akan penuh dengan kebohongan, penipuan, dan penghianatan.
Prinsip diatas jelas berlaku dalam membangun keuangan dan mata uang yang kuat di negeri ini. Di keuangan, trust atau kepercayaan adalah modal mantra paling utama. Sekali cacat moral trust. Selesai sudah itu, sampai kapanpun gak bakal dipercaya. Jelas saat ini sifat yang sama terjadi pada publik masyarakat dan investor yang berbondong-bondong menarik uang mereka dan segera digeser ke tempat lain pada pilihan instrument yang lebih aman.
Arus bergesernya modal jelas memicu kurs mata uang menjadi lemah. Itulah yang terjadi pada IDR/ rupiah pada akhir2 ini. Rupiah sempat menyentuh harga Rp17.900/ dollar, sungguh harga yang cukup mengerikan dengan prediksi teknikal akan geser jatuh lagi ke Rp18.300/ dollar. Ini jelas menjadi penurunan rupiah terendah sepanjang sejarah/masa. Bahkan sempat atas kejadian tsb Bank Indonesia beberapa kali menaikkan return SRBI hingga hamper 6%. Bahkan Lelang SRBI bertambah jadi sepekan 2 kali. Hasilnya, tetap tidak mampu menarik Kembali modal asing ke Indonesia.
Pesannya apa? Pesannya, intervensi jangka pendek tidak bisa jadi “obat cespleng” memulihkan trust kepercayaan public dan investor. Bahkan data Bloomberg sempat menyebutkan bahwa sejak Januari hingga akhir April 2026 kemarin ada sebanyak Rp68,4 triliun atau 4x lipat dibandingkan tahun lalu dana tsb sudah keluar dari Indonesia. Terutama setelah MSCI mengkritik Indonesia terkait “transparansi pasar modal Indonesia yang sangat jelek”.
Ini jelas muara utamanya di "mental dan tata cara pengelolaan" fiskal keuangan yang buruk dan tidak transparan. Pengen mengejar pertumbuhan, tapi praktiknya “jor-joran mempercepat perilaku cost centric, tidak mau dievaluasi, dan tetap open belanja MBG dan Kopdes Merah Putih". Itu urusan MBG saja sudah tembus Rp55 triliun dari pagu Rp335 triliun. Banyak data2 diatas kertas saat ini bahkan BPS yang lebih ke “ABS/ asal bapak senang” dan jauh dari panggang di bandingkan fakta keadaan sesungguhnya di lapangan. Era manipulasi sangat tinggi.
Menurut saya, seharusnya momentum2 spending belanja masyarakat kemaren bahkan di tanggal2 merah kemaren (lebaran, dst) menjadi peluang negara “mendapatkan daya beli” agar menaikkan pertumbuhan ekonomi, tapi praktiknya tidak. Miris. Penyangga fiskalnya sangat rapuh dan jelas tidak sustainable. Data saat ini saja, defisit APBN pada kuartal pertama sudah menyentuh Rp240 triliun. Naik dari Rp99,8 triliun di periode yang sama tahun lalu. Jika dihitung, angka itu “setara dengan 0,96% PDB kita saat ini”. Parah. Kritiknya? Ekspansi fiskal agresif, tapi sama sekali gak produktif. Inilah yang membuat investor dan public ketakutan menahan uang lama2 di pasa keuangan idnoensia.
Kalau ttg “kemampuan pemerintah membayar utang jatuh tempo” bagaimana? Eh, tambah parah itu. Kucing-kucingan yang ada. Ditagihnya kapan, lari bikin alasannya apa. Jadi antara jatuh tempo dengan jawaban gak nyambung. Narasinya muter-muter gak ceto. Dampaknya? Ya jelas pelemahan rupiah langsung terjadi, dan “membentuk lingkaran setan” yang sulit dibendung.
Itu masih beberapa tagihan, belum lagi kalau kita membahas ttg “biaya subsidi dan kompensasi energi dan BBM” yang jelas2 harus memotong alokasi APBN. Nah pie kui?! Konflik timur Tengah bukannya makin adem malah makin panas. Kenaikan harga minyak dunia bahkan diikuti dengan kenaikan harga barang2 impor ke Indonesia. Lonjakan biaya subsidi, kompensasi, dan biaya2 impor akibat bayar menggunakan dollar akhirnya menjadi beban utama fiskal APBN kita hari ini setelah MBG dan Kopdes Merah Putih. Heh, makin goyah per-keuangan kita hari ini.
Lalu apa yang dilakukan pemerintah? Betul, pemerintah berusaha meyakinkan public bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Apakah bisa? Tidak bisa. Apalagi dengan progress2 dan perkembangan ekonomi hari ini. Makin banyak pidato serampangan bikin IHSG ikutan anjlok. Bukannya optimis kok malah makin pesimis ya.
Saya ingatkan ya. Kepercayaan adalah pondasi utama. Solusi saat ini? Ya dimulai dari disiplin fiskal dulu. Dengan perbaiki kualitas belanja dan lakukan rem pada pengeluaran2 yg tidak perlu/ penting. Sudah, titik.
Penutup dari saya, watak yang tidak bisa diubah adalah pembohong, penipu, dan penghianat. Pembohong tetaplah pembohong meski seribu kali dia bersumpah. Begitupun dengan penipu dan penghianat, tetap penipu dan penghianat meski seribu kali ia meminta maaf. Perlu diketahui bahwa pembohong pandai merangkai menarasi kata. Sedangkan penipu dan penghianat pandai menyembunyikan dosa-dosanya.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar
Posting Komentar