Data Blindness di Era Post-Truth (Kebenaran Relatif)
Kalau kita bicara data, ada banyak hal yang harus digaris bawahi. Bagi saya data hanya preambule saja. Ini hanya input awal. Yang berbahaya saat mengolah itu menjadi output. Nah ini, alat-alat canggih/ jahat kadang menghilangkan etika dan moralitas. Orang yang selalu bicara moralitas tidak menjamin dan menjadikannya bermoral. Poinnya adalah kebohongan bisa menutupi kebenaran, tapi tidak menghilangkannya. Semua hanya masalah waktu, hingga kebenaran terungkap. Yakinlah, seberapapun cepat kebohongan itu berlari, namun kebenaran akan mengejarnya juga.
Di era post-truth (kebenaran relatif) yang serba aneh ini, berkompetisi "tidak lagi" semata-mata ditentukan oleh "kualitas intrinsic value sesungguhnya", melainkan lebih oleh kemampuan cangkeman dan narasi untuk: (1) menciptakan "narasi yang terasa benar" bagi target segmen ttt; (2) memanfaatkan "pergeseran fokus" dari value proposition rasional menuju "emotional proposition" yang membakar (jualan simpatik, kesedihan, ketakutan, amarah). Trus akibatnya apa? Akibatnya adalah "banyak praktik di lapangan" penawaran karya bergerak pada "garis tipis" antara inovasi kreatif Vs. praktik penipuan terselubung.
Kebenaran obyektif menjadi "kurang relevan dibandingkan kebenaran yang relatif relevan" bagi orang tsb. Inilah kesedihan dan PR moralitas saat ini, zaman ini kita sudah dihadpakan pada fenomena "bukan berpihak lagi pada benar salah, baik buruk, dan terkesan relevan atau tidak relevan". Pijakan identitasnya menjadi "abu-abu", bukan lagi jelas itu hitam atau putih. Deepfake makin banyak saja.
Yang saya perhatikan di era post-truth ini adalah case study Trump Vs. Hillary Clinton tahun 2016 hingga Trump versi 2026 hari ini. Prinsipnya bukan lagi "we debate, we validate", akan tetapi "we dont debate, we dominate". Prinsip serangan fajar di lapangannya adlaah "mengganti logika obyektif" dengan "emosi", yaitu data, angka dan hasil riset akhirnya hanya dianggap "aksesoris saja". Hanya mau diambil yang mendukung-mendung saja. Kemenangan lapangan didesain fokus diraih dengan "manipulasi membakar sentimen (amarah, ketakutan, simpati, kesedihan) dengan "logical fallacy". Fokus dibuat "bergeser" dari meyakinkan secara rasional menuju ke "melumpuhkan nalar dan mengorbankan emosi seseorang".
Memang bentuknya bagaimana? Ada, begini bentuknya:
Tabel 1. Bentuk Logical Fallacy untuk Mengganti Logika Obyektif dengan Emosi
|
Ad-Hominem |
Anecdotal |
Appeal to Emotion |
|
Menyerang karakter/ kehidupan personal lawan untuk melumpuhkan argumentasinya |
Menggunakan cerita personal untuk membuktikan fakta universal/ fakta relatif. Khususnya untuk melumpuhkan data dan statistik |
Memanipulasi tindakan emosional seperti tangisan, simpati, amarah, ketakutan, dan kesedihan untuk membuktikan sebuah pendapat |
|
Hallo Effect |
The Texas Sharpshooters |
Burden of Proof |
|
Menggunakan pendapat orang sebagai "expert", walaupun sebetulnya ia bukan expert |
Memilih dan memotong-motong data sebagian-sebagian yang mendukung argumentasinya saja |
Bahwa pembuktian keabsahan sebuah argumen tidak berada di orang yang membuat argumen, namun pada kemampuan orang lain untuk membuktikan argumen tsb salah |
|
Loaded Questions |
Appeal to Authority |
Bandwagon |
|
Menanyakan kembali sebuah asumsi kepada orang yang mengkritiknya, sehingga tidak bisa dijawab tanpa sang pengkritik terlihat bersalah |
Karena atasan atau figur bersifat otoritas (beroritas pada jabatan atau kekuasaan ttt) membuat mengatakan itu benar, maka hal itu pasti benar adanya |
Merujuk pada popularitas atau fakta bahwa banyak orang yang menerima sesuatu sebagai kebenaran, maka hal itu adalah kebenaran |
|
Tu Quoquo |
Slippery Slop |
Compotition/ Devision |
|
Menghindari kritikan dengan cara mengkritik kembali orang yang mengkritiknya |
Berpendapat jika kita membiarkan A terjadi, maka Z akan terjadi juga. Maka kita tidak boleh membiarkan A terjadi |
Berasumsi bahwa sebuah prinsip benar untuk sebuah kondisi, maka prinsip itu akan berlaku untuk kondisi lain juga |
|
Logical fallacy adalah pendapat yang keliru secara logika nalar dan digunakan secara sengaja / tidak untuk melumpuhkan pendapat logis orang lain. Biasanya langkah ini digunakan oleh para politikus, media, juga orang awam untuk memanipulasi keadaan dan pemahaman orang lain |
||
Sumber: Data Sekunder Indasah (The Logical Fallacies: Kesalahan Berlogika yang Dianggap Berpikir Kritis, 2023), dan T. Edward Damer (Attacking Faulty Reasoning, 1995), data diolah ulang oleh peneliti.
Implikasi di dunia lapangan bagaimana? "Perubahan medan persaingan". Persaingan kini di ranah "konstruksi persepsi". Jadi melalui cara ini terlihat jelas bahwa "hasil kompetisi tidak ditentukan lagi" oleh siapa yang paling benar, akan tetapi oleh siapa yang paling mampu menciptakan "persespsi emosional yang dirasakan benar" di lapangan. Sungguh teatrikal drama yang luar biasa.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!
Komentar
Posting Komentar