Dalam puncak moril, malah puncak ironi. Iya enough is enough . Di negeri tropis bernama Republik Indonesia ini, kekuasaan mirip kredit KPR: pahit di cicilan dan basa-basi manis di awal. Para pemimpin datang membawa janji, namun pergi meninggalkan defisit. Dan pada akhirnya, sejarah hanya mencatat satu hal "apakah kamu gagal bayar atau tidak?". Semua penguasa jatuh karena satu alasan. Apa itu? Ekonomi. Soekarno tumbang bukan karena kurang kharismatik, tapi karena rakyat tak sanggup lagi membeli kebutuhan pokok. Soeharto, sang "smiling general", bukan dilengserkan karena kehilangan senyum, tapi karena harga beras dan nilai tukar tak lagi bisa ditoleransi. Reformasi 1998 lahir bukan dari idealisme elite kampus semata, tapi dari kurs rupiah yang tembus Rp17.000, PHK massal, dan rakyat lapar. Sejarah valid (bukan his-STORY) tidak pernah butuh retorika dan relatif/ manipulasi. Sejarah hanya percaya bukti empirisme angka, bukan pemaknaan. Manusia biasa pun tunduk pada huk...
Sebuah tulisan dikala hujan sore santai sambil menikmati jus jambu. Ada ungkapan menarik dari seorang Cynthia Ozick (1928) bahwa dalam mengatakan apa yang sudah jelas, jangan pernah memilih licik. Ilustrasinya ketika kamu ingin menolong seseorang, pastikan dahulu ia itu anjing atau ular. Ular tetaplah ular walau sudah beberapa kali berganti kulit. Memang praktik di lapangannya bagaimana? Ini sebetulnya sudah mental illness yang menjebak dirinya sendiri sih ya, akhirnya ambisi dijadikan pembenaran, hidup selalu berintrik, gila akan pengakuan, peluang selalu dipanen dengan licik, sikap hanya tipuan just branding (not intrinsic value) , otaknya berpikiran picik, perilaku penuh rekayasa, bilangnya nir keuangan tapi praktiknya nir etiket. Saya fikir sudah cukup, kembali ke judul. Bagaimana itu tradisi para pakar? Lebih tepatnya "tradisi para ahli". Kemaren kami menggelar FGD/ focus group discussion dengan berbagai kelompok akademisi dan industriawan berb...
Untuk memperdalam analisis, saya akhirnya berdialog dengan Prof. HS. Ahimsa-Putra dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, seorang akademisi yang dikenal luas dalam kajian budaya, epistemologi, dan antropologi intepretatif. Percakapan kami mengerucut pada posisi ilmu pengetahuan, kebenaran, dan maraknya wacana "kebenaran relatif" di masyarakat modern. Disinilah saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis: "Prof, bagaimana dengan "tren kebenaran relatif" yang akhir-akhir ini sering dipakai di masyarakat? Kenapa praktiknya lebih sering menjadi alat retorika untuk menolak kritik, melegitimasi tindakan pribadi, bahkan alibi hanya untuk menghindar dari tanggung jawab dan strategi membingungkan lawan bicara?" Prof. Ahimsa-Putra kemudian menegaskan dengan tegas yang menurut saya sangat penting, bahwa: “Ilmu adalah cahaya penuntun manusia, bukan alat untuk mengendarai manusia dan memperdaya manusia”. Beliau menambahkan kebijaksanaan dalam keilmuan lagi, bahwa: "I...
Komentar
Posting Komentar